ASKEP KOLELITHIASIS

Kolelithiasis

Definisi

Kolelitiasis (kalkuli/kalkulus,batu empedu) merupakan suatu keadaan dimana terdapatnya batu empedu di dalam kandung empedu (vesika felea) dari unsur-unsur padat yang membentuk cairan empedu yang memiliki ukuran,bentuk dan komposisi yang bervariasi.

Kolelitiasis tidak lazim dijumpai pada anak-anak dan dewasa muda, tapi insidenya semakin sering pada individu yang berusia di atas 40 tahun dan semakin meningkat pada usia 75 tahun satu dari tiga orang akan memiliki batu empedu.

Kolelitiasis disebut juga Sinonimnya adalah batu empedu, gallstones, biliary calculus. Istilah kolelitiasis dimaksudkan untuk pembentukan batu di dalam kandung empedu. Batu kandung empedu merupakan gabungan beberapa unsur yang membentuk suatu material mirip batu yang terbentuk di dalam kandung empedu.

Etiologi

Empedu normal terdiri dari 70% garam empedu (terutama kolik dan asam chenodeoxycholic), 22% fosfolipid (lesitin), 4% kolesterol, 3% protein dan 0,3% bilirubin. Etiologi batu empedu masih belum diketahui dengan sempurna namun yang paling penting adalah gangguan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu, stasis empedu dan infeksi kandung empedu.

Patofisiologi

Pembentukan batu empedu dibagi menjadi tiga tahap:

  1. pembentukan empedu yang supersaturasi,
  2. nukleasi atau pembentukan inti batu, dan
  3. berkembang karena bertambahnya pengendapan.

Kelarutan kolesterol merupakan masalah yang terpenting dalam pembentukan semua batu, kecuali batu pigmen. Supersaturasi empedu dengan kolesterol terjadi bila perbandingan asam empedu dan fosfolipid (terutama lesitin) dengan kolesterol turun di bawah harga tertentu. Secara normal kolesterol tidak larut dalam media yang mengandung air.empedu dipertahankan dalam bentuk cair oleh pembentukan koloid yang mempunyai inti sentral kolesterol, dikelilingi oleh mantel ( kulit)yang hidrofilik dari garam empedu dan fosfolipd ( lesitin), jadi sekresi kolesterol yang berlebihan ( karena empedu adalah saluran utama yang mengeluarkan bahan inti dari badan), atau kadar asam empedu rendah, atau trjadi sekresi lesitin, merupakan keadaan yang litogenik.

Batu empedu ada dua tipe utama :

  1. Batu pigmen

Diempedu

Pigmen tak terkonyugasi (akibat berkurangnya glukoronil transferase).Akan mengalami prespitasi ( pengendapan). Terjadi pengendapan batu

Batu pigmen sangat beresiko terjadi pada seseorang yang mengalami sirosis, hemolisis, infeksi pada percabangan bilier.dan batu ini tidak bias dilarutkan dan pengeluaranya harus dengan oprasi.

Batu pigmen komposisinya terdiri dari kalsium bilirubinat merupakan urutan berikutnya yang penting setelah batu kolesterol.tidak seperti batu kolesterol, batu ini seringkali murni, berwarna hitam pekat, disebut “ jack stones” ( batu: jack), atau bila campur, berbentuk bola biasanya berdiameter dibawah 1 cm.hampir tidak pernah terjadi tunggal dan mungkin ada dalam jumlah yang besar.kalsium karbonat yang cukup, ditemukan pada10-20 % dari semua batu empedu, menunjukan radio opak ( tidak tembus cahaya),tetapi batu kalsium karbonat murni jarang.

Batu pigmen merupakan 10% dari total jenis batu empedu yang mengandung <20% kolesterol. Jenisnya antara lain:

  1. Batu pigmen kalsium bilirubinan (pigmen coklat)

Berwarna coklat atau coklat tua, lunak, mudah dihancurkan dan mengandung kalsium-bilirubinat sebagai komponen utama. Batu pigmen cokelat terbentuk akibat adanya faktor stasis dan infeksi saluran empedu. Stasis dapat disebabkan oleh adanya disfungsi sfingter Oddi, striktur, operasi bilier, dan infeksi parasit. Bila terjadi infeksi saluran empedu, khususnya E. Coli, kadar enzim B-glukoronidase yang berasal dari bakteri akan dihidrolisasi menjadi bilirubin bebas dan asam glukoronat. Kalsium mengikat bilirubin menjadi kalsium bilirubinat yang tidak larut. Dari penelitian yang dilakukan didapatkan adanya hubungan erat antara infeksi bakteri dan terbentuknya batu pigmen cokelat.umumnya batu pigmen cokelat ini terbentuk di saluran empedu dalam empedu yang terinfeksi.

  1. Batu pigmen hitam.

Berwarna hitam atau hitam kecoklatan, tidak berbentuk, seperti bubuk dan kaya akan sisa zat hitam yang tak terekstraksi. Batu pigmen hitam adalah tipe batu yang banyak ditemukan pada pasien dengan hemolisis kronik atau sirosis hati. Batu pigmen hitam ini terutama terdiri dari derivat polymerized bilirubin. Potogenesis terbentuknya batu ini belum jelas. Umumnya batu pigmen hitam terbentuk dalam kandung empedu dengan empedu yang steril.

  1. Batu kolesterol

Kolesterol adalah unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air.kelarutannya bergantung pada asam-asam emped dan lesitin ( fospolifid) dalam empedu.

Fatopisiologinya adalah

Sintesis asam empedu dan sintesis kolesterol dihati       Supersaturasi getah empedu oleh kolesterol       Keluar dari getah empedu      Mengendap        Terjadi pembentukan batu

Pada 80 % kasus, kolesterol merupakan komponen terbesar dari batu empedu ( batu kolesterol). Komposisi batu ini biasanya berupa kalsium karbonat, fosfat,atau bilirubinat, tetapi jarang batu-batu ini terdiri dari satu komponen saja. Batu kolesterol klasik berdiameter 1-3 cm, kuning pucat sampai coklat, sering multiple, bulat atau persegi oleh karena aposisi yang berdesakan.

penyakit batu empedu kolesterol terjadi akibat beberapa defek, yang mencakup

1)      penjenuhan empedu oleh kolesterol,

2)      nukleasi kolesterol monohidrat diikuti oleh retensi Kristal dan pertumbuhan batu,

3)      gangguan motorik kandung empedu yang menyebabkan perlambatan pengosongan dan statis.

  1. Batu campuran

Batu yang terbentuk dari campuran antara kolesterol dan pigmen, dimana mengandung 20-50% kolesterol.

Factor Resiko

Kolelitiasis dapat terjadi dengan atau tanpa factor resiko diwah ini, semakin besar factor resiko yang ada pada seseorang maka semakin besar pula orang itu untuk dapat mengalami pembentukan batu empedu.

Diantaranya adalah :

  1. Empat “F’S” : fat, female, fertile( multipara),dan forty
  2. Etnik dan genetic ( insidenya sangat tinggi pada orang-orang Indian amerika, lalu orang-orang kulit putih dan kemudian orang afrika).
  3. Penyakit chorn
  4. Fibrosis kistik dengan insufisiensi pancreas

Pada penyakit chorn, fibrosis kistik dan insufisiensi pancreas itu disebabkan karena adanya malabsorpsi asam empedu dalam ileum.

  1. Pengguanaan estrogen termasuk yang terkandung dalam kontrasepsi oral mempunyai resiko tinggi untuk terjadi batu empedu.mekanismenya kerjanya disebabkan oleh disebabkan oleh adanya sekresi kolesterol berlebih, dilengkapi dengan adanya defek sintesis asam empedu.
  2. Klofibrat ( obat anti hiperlipidemia), digunakan dengan maksud untuk merendahkan kadar lifid dalam serum dan menghambat aterogenesis secara nyata, secara nyata meningkatkan insiden batu empedu dengan cara meningkatkan sekresi kolesterol biliar.
  3. Obesitas, barangakali dihubungkan dengan pemasukan kalori yang tinggi dan gula yang sedikit.
  4. Penyakit lain (seperti Fibrosis sistik, Diabetes mellitus, sirosis hati, pankreatitis dan kanker kandung empedu) dan penyakit ileus (kekurangan garam empedu)
  5. Hiperlipidemia
  6. Kehamilan (resiko meningkat pada kehamilan)
  7. Nutrisi intravena jangka lama
  8. Dismotilitas kandung empedu

Manifestasi klinik

Penderita penyakit kandung empedu dapat mengalmi dua jenis gejala : gejala yang terjadi akibat penyakit pada kandung empedu itu sendiri dan gejala yang terjadi akibat obstruksi pada lintasan empedu oleh batu empedu. Gejala kolelitiasis dapat terjadi akut atau kronis dan terjadinya gangguan pada epigastrium jika makan makanan berlemak, seperti: rasa penuh diperut, distensi abdomen, dan nyeri samar pada kuadran kanan atas.

Mekanisme nyeri dan kolik bilier

Jika duktus sistikus tersumbat batu, maka kandung empedu mengalami distensi kemudian akan terjadi infeksi sehingga akan teraba massa pada kuadran I yang menimbulkan nyeri hebat sampai menjalar ke punggung dan bahu kanan sehingga menyebabkan rasa gelisah dan tidak menemukan posisi yang nyaman. Nyeri akan dirasakan persisten (hilang timbul) terutama jika habis makan makanan berlemak yang disertai rasa mual dan ingin muntah dan pada pagi hari karena metabolisme di kandung empedu akan meningkat

Mekanisme mual dan muntah

Perangsangan mual dapat diakibatkan dari adanya obstruksi saluran empedu sehingga mengakibatkan alir balik cairan empedu ke hepar (bilirubin, garam empedu dan kolesterol) menyebabkan terjadinya proses peradangan disekitar hepatobiliar yang mengeluarkan enzim-enzim SGOT dan SGPT, menyebabkan peningkatan SGOT dan SGPT yang bersifat iritatif di saluran cerna sehingga merangsang nervus vagal dan menekan rangsangan sistem saraf parasimpatis sehingga terjadi penurunan peristaltik sistem pencernaan di usus dan lambung, menyebabkan makanan tertahan di lambung dan peningkatan rasa mual yang mengaktifkan pusat muntah di medula oblongata dan pengaktifan saraf kranialis ke wajah, kerongkongan serta neuron-neuron motorik spinalis ke otot-otot abdomen dan diafragma sehingga menyebabkan muntah. Apabila saraf simpatis teraktifasi akan menyebabkan akumulasi gas usus di sistem pencernaan yang menyebabkan rasa penuh dengan gas maka terjadilah kembung.

Mekanisme ikterus

Ikterus dapt dijumpai diantara penderita kandung empedu dengan persentase yang kecil dan biasanya terjadi pada obstruksi duktus koledokus.obstruksi pengaliran getah empedu ke duodenum akan mengakibatkan gejala yang khas, yaiu getah empedu yang tidak lagi dibawa keduodenum akan diserap oleh darah dan penyerapan empedu ini membuat kulit dan membrane mukosa berwarna kuning.keadaan ini sering dijumpai dengan gatal-gatal yang mencolok pada kulit.

Pemeriksaan laboratorium

Nilai hasil pemeriksaan laboratorium

  1. Uji eksresi empedu

Fungsinya mengukur kemampuan hati untuk mengonjugasi dan mengekresikan pigmen.

Bilirubin direk (terkonjugasi) merupakan bilirubin yang telah diambil oleh sel-sel hati dan larut dalam air. Makna klinisnya mengukur kemampuan hati untuk mengonjugasi dan mengekresi pigmen empedu. Bilirubin ini akan meningkat bila terjadi gangguan eksresi bilirubin terkonjugasi.

  • Nilai normal :

0,1-0,4 mg/dl/100ml

Bilirubin indirek (tidak terkonjugasi) merupakan bilirubin yang larut dalam lemak dan akan meningkat pada keadaan hemolitik (lisis darah).

  • Nilai normal :
    0,2-0,5 mg/dl/100ml

Bilirubin serum total merupakan bilirubin serum direk dan total meningkat pada penyakit hepatoselular

  • Nilai normal :
    0,2-0.9 mg/dl/100ml

Bilirubin urin / bilirubinia merupakan bilirubin terkonjugasi dieksresi dalam urin bila kadarnya meningkat dalam serum, mengesankan adanya obstruksi pada sel hatiatau saluran empedu. Urin berwarna coklat bila dikocok timbul busa berwarna kuning.

  • Nilai normal :

0 (nol)

  1. Uji enzim serum

Asparte aminotransferase (AST / SGOT ) dan alanin aminotransferase (ALT / SGPT) merupakan enzim intrasel yang terutama berada di jantung, hati, dan jaringan skelet yang dilepaskan dari jaringan yang rusak (seperti nekrosis atau terjadi perubahan permeabilitas sel dan akan meningkat pada kerusakan hati. Nilai normal AST / SGOT dan ALT / SGPT : 5-35 unit/ml.
Alkaline posfatase dibentuk dalam hati dan dieksresikan ke dalam empedu, kadarnya akan meningkat jika terjadi obstuksi biliaris. Nilai normalnya : 30-120 IU/L atau 2-4 unit/dl.

Pemeriksaan diagnostic

  1. pemeriksaan sinar X Abdomen

Dapat dilakukan pada klien yang dicurigai akan penyakit kandung empedu. Dan untuk menyingkirkan penyebab gejala yang lain. pemeriksaannya hanya 15-20 % batu yang mengalami kalsifikasi untuk dapat tampak melalui pemerikasaan ini.

  1. Kolangiogram / kolangiografi transhepatik perkutan

Yaitu melalui penyuntikan bahan kontras langsung ke dalam cabang bilier. Karena konsentrasi bahan kontras yang disuntikan relatif besar maka semua komponen sistem bilier (duktus hepatikus, D. koledukus, D. sistikus dan kandung empedu) dapat terlihat. Meskipun angka komplikasi dari kolangiogram rendah namun bisa beresiko peritonitis bilier, resiko sepsis dan syok septik.

  1. ERCP ( Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatographi)

Yaitu Pemeriksaan ini meliputi insersi endoskop serat optic yang fleksibel kedalam esophagus hingga mencapai duodenum pars desenden..sebuah kanul yang dimasukan ke dalam duktus koledukus dan duktus pancreatikus, kemudian bahan kontras disuntikkan ke dalam duktus tersebut. Fungsi ERCP ini memudahkan visualisasi langsung stuktur bilier dan memudahkan akses ke dalam duktus koledukus bagian distal untuk mengambil batu empedu, selain itu ERCP berfungsi untuk membedakan ikterus yang disebabkan oleh penyakit hati (ikterus hepatoseluler dengan ikterus yang disebabkan oleh obstuksi bilier dan juga dapat digunakan untuk menyelidiki gejala gastrointestinal pada pasien-pasien yang kandung empedunya sudah diangkat.ERCP ini berisiko terjadinya tanda-tanda perforasi/ infeksi

  1. Pemeriksaan Ultrosonografi (USG)

Pemeriksaan dengan USG sangat cepat dan akurat dilaporkan bahwa USG dapat mendeteksi batu empedu dengan akurasi 95%.Ultrasonografi mempunyai derajat spesifisitas dan sensitifitas yang tinggi untuk mendeteksi batu kandung empedu dan pelebaran saluran empedu intrahepatik maupun ekstra hepatik. Dengan USG juga dapat dilihat dinding kandung empedu yang menebal karena fibrosis atau udem yang diakibatkan oleh peradangan maupun sebab lain. Batu yang terdapat pada duktus koledukus distal kadang sulit dideteksi karena terhalang oleh udara di dalam usus. Dengan USG punktum maksimum rasa nyeri pada batu kandung empedu yang ganggren lebih jelas daripada dengan palpasi biasa

  1. Pemeriksaan pencitraan radionuklida atau koleskintografi

Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukan preparat radio aktif yang disuntikan intravena .preparat itu kemudian diambil oleh preparat hepatosit dan dengan cepat diekresikan kedalam system bilier.selanjutnya dilakukan pemindaian saluran empedu untuk mendapatkan gambaran kandung empedu dan percabangan bilier.

  1. Kolesistografi
    Untuk penderita tertentu, kolesistografi dengan kontras cukup baik karena relatif murah, sederhana, dan cukup akurat untuk melihat batu radiolusen sehingga dapat dihitung jumlah dan ukuran batu. Kolesistografi oral akan gagal pada keadaan ileus paralitik, muntah, kadar bilirubun serum diatas 2 mg/dl, okstruksi pilorus, dan hepatitis karena pada keadaan-keadaan tersebut kontras tidak dapat mencapai hati. Pemeriksaan kolesitografi oral lebih bermakna pada penilaian fungsi kandung empedu

Penatalaksanaan

  1. Non Bedah,

Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi episode akut nyeri kandung empedu dan kolesistisis melalui penatalaksanaan pendukung serta diet, dan untuk menghilangkan penyebab kolesistisis melalui farmakoterapi, prosedur endoskopik serta intervensi bedah

  1. Therapi Konservatif

Pendukung diit :

  • Cairan rendah lemak
  • Cairan Infus
  • Pengisapan Nasogastrik
  • Analgetik
  • Antibiotik
  • Istirahat
  1. Farmako Therapi

Pemberian asam ursodeoksikolat dan kenodioksikolat digunakan untuk melarutkan batu empedu terutama berukuran kecil dan tersusun dari kolesterol.mekanisme kerjanya adalah menghambat sintesis kolesterol dalam hati dan sekresinya sehingga terjadi desaturasi getah empedu.batu yang sudah ada dapat dikurangi besarnya,batu yang kecil dilarutkan dan yang kecil dicegah pembentukanya.

  1. Pengangkatan batu empedu tanpa pembedahan

Diantaranya adalah dengan mengunakan metode :

  • Pelarutan batu empedu
  • Pengangkatan non bedah : biasanya dilakukan untuk mengeluarkan batu yang belum terangkat ketika kolesistektomi atau yang terjepit dalam duktus koledokus.
    • Prosedur pertama : denga mmasukan kateter dan jarring yang terpasang disisipkan lewat saluran T- tube atau lewat fistula yang terbentuk pada saat insersi T-tube
    • Prosedur kedua adalah endoskop ERCP
    • Extracorporeal shock wave lithotripsy ( ESWL)
  1. Therapy

a)      Ranitidin

Komposisi : Ranitidina HCl setara ranitidina 150 mg, 300 mg/tablet, 50 mg/ml injeksi.

Indikasi : ulkus lambung termasuk yang sudah resisten terhadap simetidina, ulkus duodenum, hiperekresi asam lambung ( Dalam kasus kolelitiasis ranitidin dapat mengatasi rasa mual dan muntah / anti emetik).

Perhatian : pengobatan dengan ranitidina dapat menutupi gejala karsinoma lambung, dan tidak dianjurkan untuk wanita hamil.

b)      Buscopan (analgetik /anti nyeri)

Komposisi : Hiosina N-bultilbromida 10 mg/tablet, 20 mg/ml injeksi

Indikasi : Gangguan kejang gastrointestinum, empedu, saluran kemih wanita.

Kontraindikasi : Glaukoma hipertrofiprostat.

c)      Buscopan Plus

Komposisi : Hiosina N-butilbromida 10 mg, parasetamol 500 mg,.

Indikasi : Nyeri paroksimal pada penyakit usus dan lambung, nyeri spastik pada saluran uriner, bilier, dan organ genital wanita.

d)     NaCl

1)      NaCl 0,9 % berisi Sodium Clorida / Natrium Clorida yang dimana kandungan osmolalitasnya sama dengan osmolalitas yang ada di dalam plasma tubuh.

2)      NaCl 3 % berisi Sodium Clorida / Natrium Clorida tetapi kandungan osmolalitasnya lebih tinggi dibanding osmolalitas yang ada dalam plasma tubuh.

  1. Penatalaksanaan bedah
  • Pembedahan Cholesistektomy

Dalam prosedur ini kandung empedu diangkat setelah arteri dan duktus sistikus diligasi.ini adalah tindakan pembedahan yang dilakukan atas indikasi cholesistitis atau pada cholelitisis, baik akut /kronis yang tidak sembuh dengan tindakan konservatif .

 

Penatalaksanaan Diet 

Pada kasus kolelitiasis jumlah kolesterol dalam empedu ditentukan oleh jumlah lemak yang dimakan karena sel –sel hepatik mensintesis kolesterol dari metabolisme lemak, sehingga klien dianjurkan/ dibatasi dengan makanan cair rendah lemak. Menghindari kolesterol yang tinggi terutama yang berasal dari lemak hewani. Suplemen bubuk tinggi protein dan karbohidrat dapat diaduk ke dalam susu skim dan adapun makanan tambahan seperti : buah yang dimasak, nasi ketela, daging tanpa lemak, sayuran yang tidak membentuk gas, roti, kopi / teh.

Komplikasi kolelitiasis

Komplikasi dari kolelitiasis diantaranya adalah :

  1. Empiema kandung empedu, terjadi akibat perkembangan kolessistitis akut denga sumbatan duktus sistikus persisten menjadi superinfeksi empedu yang tersumbat disertai kuman kuman pebentuk pus.
  2. Hidrops atau mukokel kandung empedu terjadi akibat sumbatan berkepanjangan duktus sitikus.
  3. Gangren, gangrene kandung empedu menimbulkan iskemia dinding dan nekrosis jaringan berbercak atau total.
  4. Ferforasi :ferforasi local biasanya tertahan dalam omentum atau oleh adhesi yang ditimbulkan oleh peradangan berulang kandung empedu.ferforasi bebas lebih jarang terjadi tetapi mengakibatkan kematian sekitar 30%.
  5. Pembentukan fistula
  6. Ileus batu empedu : obstruksi intestinal mekanik yang diakibatkan oleh lintasan batu empedu yang besar kedalam lumen usus.
  7. Empedu limau (susu kalsium) dan kandung empedu porcelain.

 

 

 

Diagnosa yang muncul

ü  Nyeri akut berhubungan dengan proses biologis yang ditandai dengan obstruksi kandung empedu

ü  Mual berhubungan dengan iritasi pada sistem gastrointestinal

ü  Defisit pengetahuan berhubungan dengan salah dalam memahami informasi yang ada

Asuhan Keperawatan

Diagnosa : Nyeri akut berhubungan dengan proses biologis yang ditandai dengan obstruksi kandung empedu

Tujuan : Nyeri akan berkurang dengan kriteria :

ü  Tingkat kenyamanan terpenuhi : perasaan senang secara fisik dan psikologis (Comfort Level ).

ü  Tingkat nyeri berkurang atau menurun (Pain Level) .

Intervensi :

  • Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif, meliputi : lokasi, karakteristik, awitan / durasi, Frekuensi, Kualitas, Intesitas dan keparahan nyeri.
  • Berikan Informasi tentang nyeri, seperti : Penyebab nyeri, seberapa akan berlangsung dan antisipasinya serta ketidaknyamanan dari prosedur.
  • Ajarkan penggunaan teknik Non-farmakologis, seperti : Relaksasi, Distraksi, Kompres Hangat / dingin, Masase )
  • Mempertahankan Tirah Baring
  • Pemberian Analgetik

Rasional :

  • Agar kita mengetahui seberapa parah nyeri yang dirasakan klien
  • Agar klien mengetahui tenyang nyeri yang bdirasakan klien
  • Agar klien dapat mengalihkan rasa nyeri
  • Dengan tirah baring akan mengurangi nyeri tekanan pada intra abdomen terutama posisi fowler rendah
  • Untuk mengurangi nyeri

Diagnosa : Mual berhubungan dengan iritasi pada gangguan sistem gastrointestinal

Tujuan :

ü  Status Nutrisi : Asupan makanan dan cairan dalam 24 jam terpenuhi / adekuat

ü  Pasien terbebas dari mual

ü  Tingkat kenyamanan terpenuhi : Perasaan lega secara fisik dan psikologis

Intervensi :

  • Penatalaksanaan Cairan : peningkatan keseimbangan cairan
  • Pemantauan Cairan : Pengumpulan dan Analisis data klien
  • Pemantauan Nutrisi : Pengumpulan dan Analisa data klien
  • Berikan therapi IV sesuai dengan anjuran

Rasional :

  • Untuk pencegahan komplikasi yang disebabakan oleh kadar cairan yang tidak normal
  • Untuk mengatur keseimbangan cairan
  • Untuk mencegah atau meminimalkan malnutrisi
  • Untuk meminimalkan rasa mual dan membantu intake nutrisi

Diagnosa : Defisit pengetahuan berhubungan dengan Salah dalam memahami informasi yang ada

Tujuan :

Terpenuhinya pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan diri dan keluarga

Intervensi :

  • Panduan Sistem Kesehatan
  • Pengajaran Proses Penyakit
  • Pengajaran diet yang dianjurkan
  • Pengajaran Prosedur atau penanganan
  • Pengajaran aktivitas/ latihan yang harus dilakukan

Rasional :

  • Untuk memfasilitasi daerah klien dan penggunaan layanan kesehatan yang tepat
  • Membantu klien dalam memahami informasi yang berhubungan dengan proses timbulnya penyakit secara khusus
  • Agar klien mengetahui makanan apa saja yang dianjurkan
  • Agar klien memahami terhadap penanganan yang dilakukan / dianjurkan
  • Agar klien mengalami aktiv itas apa yang harus dilakukan

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar pustaka

BrunnerE & Suddart.2001.Keperawatan Medikal Bedah Vol 2.Jakarta : EGC

Harisson 2000.Prinsip-Prinsip ilmu penyakit dalam vol 4. Jakarta : EGCE

Robins Kumar. Buku ajar Patologi II, edisi 4.jakarta : EGCE

GuytonE & Hall,Buku ajar Fisiollogi Kedokteran .jakarta : EGC

Tentang enymint

@.....hadapi semuanya dengan senyuman .....@ simple ,,, cute ,,, frendly ,,,
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s