Askep Hipertropi Prostat

HIPERTROPI PROSTAT

Defenisi

Hipertropi Prostat adalah hiperplasia dari kelenjar periurethral yang kemudian mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah. (Jong, Wim de, 1998).

Hipertropi Prostat adalah pembesaran dari kelenjar prostat yang disebabkan oleh bertambahnya sel-sel glandular dan interstitial yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan gangguan aliran urine, dan kebanyakan terjadi pada umur lebih dari 50 tahun.

Hipertropi dari kelenjar periuretral ini kemudian mendesak jaringan prostat yang asli ke penfer dan menjadi kasus.

Etiologi

Banyak teori yang menjelaskan terjadinya pembesaran kelenjar prostat, namun sampai sekarang belum ada kesepakatan mengenai hal tersebut. Ada beberapa teori mengemukakan mengapa kelenjar periurethral dapat mengalami hiperplasia, yaitu :

  • Teori Sel Stem (Isaacs 1984)

Berdasarkan teori ini jaringan prostat pada orang dewasa berada pada keseimbangan antara pertumbuhan sel dan sel mati, keadaan ini disebut steady state. Pada jaringan prostat terdapat sel stem yang dapat berproliferasi lebih cepat, sehingga terjadi hiperplasia kelenjar periurethral.

  • Teori MC Neal (1978)

Menurut MC. Neal, pembesaran prostat jinak dimulai dari zona transisi yang letaknya sebelah proksimal dari spincter eksterna pada kedua sisi veromontatum di zona periurethral.

  • Teori Di Hidro Testosteron (DHT)

Testosteron adalah hormon pria yang dihasilkan oleh sel leyding. Testosteron sebagian besar dihasilkan oleh kedua testis, sehingga timbulnya pembesaran prostat memerlukan adanya testis yang normal. Jumlah testosteron yang dihasilkan oleh testis kira-kira 90 % dari seluruh produksi testosteron, sedang yang 10 % dihasilkan oleh kelenjar adrenal.

50 tahun ke atas. ±Sebagian besar testosteron dalam tubuh berada dalam keadaan terikat dengan protein dalam bentuk Serum Binding Hormon (SBH). Sekitar 2 % testosteron berada dalam keadaan bebas. Hormon yang bebas inilah yang memegang peranan dalam proses terjadinya pembesaran kelenjar prostat. Testosteron bebas dapat masuk ke dalam sel prostat dengan menembus membran sel ke dalam sitoplasma sel prostat sehingga membentuk DHT – reseptor komplek yang akan mempengaruhi Asam Ribo Nukleat (RNA) yang dapat menyebabkan terjadinya sintetis protein sehingga dapat terjadi proliferasi sel (MC Connel 1990). Perubahan keseimbangan testosteron dan estrogen dapat terjadi dengan bertambahnya usia

Gejala

Seiring dengan bertambahnya usia, kelenjar prostat akan terus membesar. Pada sebagian pria, pembesaran ini cukup signifikan sehingga menekan saluran kencing (urethra) yang diselubunginya. Akibatnya, diameter saluran kencing akan mengecil, atau bahkan tersumbat sama sekali. Hal inilah yang menjadi penyebab timbulnya gejala yang dirasakan penderita.

Gejala-gejala tersebut antara lain :

  • Sulit untuk mulai berkemih.
  • Aliran kemih lemah, dan kadang-kadang terhenti.
  • Kencing menetes sebelum dan setelah berkemih.
  • Sering merasa sangat ingin berkemih.
  • Sering bangun di malam hari untuk berkemih.
  • Rasa tidak puas setelah berkemih, terasa kandung kemih masih ada isinya tetapi sudah tidak bisa dikeluarkan lagi.

Kadang-kadang pembesaran kelenjar prostat akan memicu timbulnya komplikasi berupa infeksi saluran kemih, batu saluran kemih, kencing keluar darah, dan gangguan fungsi ginjal.

Tetapi perlu diingat, jika Anda atau seseorang mengalami gejala seperti di atas, tidak dapat dengan serta merta dikatakan orang tersebut menderita pembesaran kelenjar prostat. Banyak gangguan atau penyakit yang memberikan gejala yang hampir sama. Oleh karena itu, sebelum diagnosis pembesaran kelenjar prostat jinak ditegakkan, maka serangkaian pemeriksaan harus dilakukan, antara lain colok dubur, analisis urin, uji PSA (prostatic specific antigen), biopsi, dll.

Gangguan yang sering memberikan gejala mirip pembesaran prostat antara lain batu kandung kemih, infeksi saluran kencing, gagal jantung, diabetes, stroke, gangguan persarafan, peradangan prostat, kanker prostat, jaringan parut pada saluran kencing, dll.

Berdasarkan angka otopsi perubahan mikroskopik pada prostat sudah dapat ditemukan pada usia 30-40 tahun. Bila perubahan mikroskopik ini terus berkembang akan terjadi perubahan patologik anatomik. Pada pria usia 50 tahun angka kejadiannya sekitar 50%, dan pada usia 80 tahun sekitar 80%. Sekitar 50% dari angka tersebut di atas akan menyebabkan gejala dan tanda klinik.

Anatomi Dan Fisiologi

Spincter externa mengelilingi urethra di bawah vesica urinaria pada wanita, tetapi pada laki-laki terdapat kelenjar prostat yang berada dibelakang spincter penutup urethra. Prostat mengekskresikan cairannya ke dalam urethra pada saat ejakulasi, cairan prostat ini memberi makanan kepada sperma. Cairan ini memasuki urethra pars prostatika dari vas deferens.
Prostat dilewati oleh :

  1. Ductus ejakulatorius, terdiri dari 2 buah berasal dari vesica seminalis bermuara ke urethra.
  2. Urethra itu sendiri, yang panjangnya 17 – 23 cm

 

Secara otomatis besarnya prostat adalah sebagai berikut :

  1. Transversal : 1,5 inchi
  2. Vertical : 1,25 inchi
  3. Anterior Posterior : 0,75 inchi

Prostat terdiri dari 5 lobus yaitu :

  1. Dua lobus lateralis
  2. Satu lobus posterior
  3. Satu lobus anterior
  4. Satu lobus medial

Kelenjar prostat kira-kira sebesar buah kenari besar, letaknya di bawah kandung kemih.
Normal beratnya prostat pada orang dewasa diperkirakan 20 gram.

Patogenesis

Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan uretra prostatika dan akan menghambat aliran urine. Keadaan ini akan menyebakan peningkatan tekanan intravesikal. Untuk dapat mengeluarkan urine, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan tersebut. Kontraksi yang terus-menerus ini akan menyebabkan perubahan anatomi dari buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula dan divertikel buli-buli.

Perubahan struktur buli-buli dirasakn oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract simptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala-gejala prostatimus.

Tekanan intravesikal yang tinggi akan diteruskan keseluruh bagian buli-buli, tak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urine dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesikoureter. Keadaan ini jika berlangsug terus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis bahkan akhirnya dapat jatuh kedalam gagal ginjal.

Patofisiologi

Biasanya ditemukan gejala dan tanda obstruksi dan iritasi. Adanya obstruksi jalan kemih berarti penderita harus menunggu pada permulaan miksi, miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran miksi menjadi melemah, dan rasa belum puas selesai miksi. Gejala iritasi disebabkan oleh hipersentivitas otot detrusor, berarti bertambahnya frekuensi miksi, nokturia, miksi sulit ditahan dan disuria. Gejala obstruksi terjadi karena detrusor gagal berkontraksi dengan cukup kuat atau gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna pada saat miksi atau pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada kandung kemih, sehingga vesica sering berkontraksi meskipun belum penuh. Keadaan ini membuat sistem scoring untuk menentukan beratnya keluhan klinik penderita hipertropi prostat.

Apabila vesica menjadi dekompensasi, akan terjadi retensi urine sehingga pada akhir miksi masih ditemukan sisa urine di dalam kandung kemih dan timbul rasa tidak tuntas pada akhir miksi.

Jika keadaan ini berlanjut, pada suatu saat akan terjadi kemacetan total, sehingga penderita tidak mampu lagi miksi karena produksi urine terus terjadi maka pada suatu saat vesika tidak mampu lagi menahan urine, sehingga tekanan vesika terus meningakat. Apabila tekanan vesika menjadi lebih tinggi dari pada tekanan spincter dan obstruksi, akan terjadi Inkotinensia Paradoks Retensi kronik menyebabkan refluks vesicoureter, hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila ada infeksi.

Pada waktu miksi penderita harus selalu mengedan sehingga lama kelamaan menyebabkan hernia atau haemorhoid. Karena selalu terdapat sisa urine dapat terbentuk batu endapan di dalam kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat pula menyebabkan cystitis dan bila terjadi refluks dapat terjadi pyelonefritis.

 

 

Ada 3 cara untuk mengukur besarnya hipertropi prostat, yaitu

1)      Rectal grading

Recthal grading atau rectal toucher dilakukan dalam keadaan buli-buli kosong. Sebab bila buli-buli penuh dapat terjadi kesalahan dalam penilaian. Dengan rectal toucher diperkirakan dengan beberapa cm prostat menonjol ke dalam lumen dan rectum. Menonjolnya prostat dapat ditentukan dalam grade. Pembagian grade sebagai berikut :

0 – 1 cm……….: Grade 0

1 – 2 cm……….: Grade 1

2 – 3 cm……….: Grade 2

3 – 4 cm……….: Grade 3

Lebih 4 cm…….: Grade 4

Biasanya pada grade 3 dan 4 batas dari prostat tidak dapat diraba karena benjolan masuk ke dalam cavum rectum. Dengan menentukan rectal grading maka didapatkan kesan besar dan beratnya prostat dan juga penting untuk menentukan macam tindakan operasi yang akan dilakukan. Bila kecil (grade 1), maka terapi yang baik adalah T.U.R (Trans Urethral Resection) Bila prostat besar sekali (grade 3-4) dapat dilakukan prostatektomy terbuka secara trans vesical.

2)      Clinical grading

Pada pengukuran ini yang menjadi patokan adalah banyaknya sisa urine. Pengukuran ini dilakukan dengan cara, pagi hari pasien bangun tidur disuruh kemih sampai selesai, kemudian dimasukkan catheter ke dalam kandung kemih untuk mengukur sisa urine.
Sisa urine 0 cc……………….…… Normal

Sisa urine 0 – 50 cc…………….… Grade 1

Sisa urine 50 – 150 cc……………. Grade 2

Sisa urine >150 cc………………… Grade 3

Sama sekali tidak bisa kemih…… Grade 4

3)       Intra urethra grading

Untuk melihat seberapa jauh penonjolan lobus lateral ke dalam lumen urethra. Pengukuran ini harus dapat dilihat dengan penendoskopy dan sudah menjadi bidang dari urology yang spesifik.

Efek yang dapat terjadi akibat hypertropi prostat:

a)      Terhadap urethra

Bila lobus medius membesar, biasanya arah ke atas mengakibatkan urethra pars prostatika bertambah panjang, dan oleh karena fiksasi ductus ejaculatorius maka perpanjangan akan berputar dan mengakibatkan sumbatan.

b)      Terhadap vesica urinaria

Pada vesica urinaria akan didapatkan hypertropi otot sebagai akibat dari proses kompensasi, dimana muscle fibro menebal ini didapatkan bagian yang mengalami depresi (lekukan) yang disebut potensial divertikula.

Pada proses yang lebih lama akan terjadi dekompensasi dari pada otot-otot yang hypertropi dan akibatnya terjadi atonia (tidak ada kekuatan) dari pada otot-otot tersebut.
Kalau pembesaran terjadi pada medial lobus, ini akan membentuk suatu post prostatika pouch, ini adalah kantong yang terdapat pada kandung kemih dibelakang medial lobe.
Post prostatika adalah sebagai sumber dari terbentuknya residual urine (urine yang tersisa) dan pada post prostatika pouch ini juga selalu didapati adanya batu-batu di kandung kemih.

c)      Terhadap ureter dan ginjal

Kalau keadaan urethra vesica valve baik, maka tekanan ke ekstra vesikel tidak diteruskan ke atas, tetapi bila valve ini rusak maka tekanan diteruskan ke atas, akibatnya otot-otot calyces, pelvis, ureter sendiri mengalami hipertropy dan akan mengakibatkan hidronefrosis dan akibat lanjut uremia.

d)     Terhadap sex organ

Mula-mula libido meningkat, teatapi akhirnya libido menurun.

Faktor resiko

Pada umumnya terjadi pada pria yang berusia di atas 50 tahun dan mencapai puncak pada usia 80 tahun dan jarang terjadi pada usia di bawah 40 tahun.

 

 

Gejala Klinik

Terbagi 4 grade yaitu :

I.            Pada grade 1 (congestic)

  1. Mula-mula pasien berbulan atau beberapa tahun susah kemih dan mulai mengedan.
  2. Kalau miksi merasa puas.
  3. Urine keluar menetes dan pancaran lemah.
  4. Nocturia
  5. Urine keluar malam hari lebih dari normal.
  6. Ereksi lebih lama dari normal dan libido lebih dari normal.
  7. Pada cytoscopy kelihatan hyperemia dari orificium urethra interna. Lambat laun terjadi varices akhirnya bisa terjadi perdarahan (blooding)

II.            Pada grade 2 (residual)

  1. Bila miksi terasa panas.
  2. Dysuri nocturi bertambah berat.
  3. Tidak bisa buang air kecil (kemih tidak puas).
  4. Bisa terjadi infeksi karena sisa air kemih.
  5. Terjadi panas tinggi dan bisa menggigil.
  6. Nyeri pada daerah pinggang (menjalar ke ginjal).

III.            Pada grade 3 (retensi urine)

  1. Ischuria paradosal.
  2. Incontinensia paradosal.

IV.            Pada grade 4

  1. Kandung kemih penuh.
  2. Penderita merasa kesakitan.
  3. Air kemih menetes secara periodik yang disebut over flow incontinensia.
  4. Pada pemeriksaan fisik yaitu palpasi abdomen bawah untuk meraba ada tumor, karena bendungan yang hebat.
  5. Dengan adanya infeksi penderita bisa menggigil dan panas tinggi sekitar 40–410 C.
  6. Selanjutnya penderita bisa koma.

Diagnostik test

Diagnosa klinik pembesaran prostat dapat ditegakkan dengan pemeriksaan sebagai berikut :

  1. Anamnese yang baik
  2. Pemeriksaan fisik

Dapat dilakukan dengan pemeriksaan rectal toucher, dimana pada pembesaran prostat jinak akan teraba adanya massa pada dining depan rectum yang konsistensinya kenyal, yang kalau belum terlalu besar masih dapat dicapai batas atasnya dengan ujung jari, sedang apabila batas atasnya sudah tidak teraba biasanya jaringan prostat sudah lebih dari 60 gr.

  1. Pemeriksaan sisa kemih
  2. Pemeriksaan ultra sonografi (USG)

Dapat dilakukan dari supra pubic atau transrectal (Trans Rectal Ultra Sonografi :TRUS). Untuk keperluan klinik supra pubic cukup untuk memperkirakan besar dan anatomi prostat, sedangkan TRUS biasanya diperlukan untuk mendeteksi keganasan.

  1. Pemeriksaan endoscopy

Bila pada pemeriksaan rectal toucher, tidak terlalu menonjol tetapi gejala prostatismus sangat jelas atau untuk mengetahui besarnya prostat yang menonjol ke dalam lumen.

  1. Pemeriksaan radiologi

Dengan pemeriksaan radiology seperti foto polos perut dan pyelografi intra vena yang sering disebut IVP (Intra Venous Pyelografi) dan BNO (Buich Nier Oversich). Pada pemeriksaan lain pembesaran prostat dapat dilihat sebagai lesi defek irisan kontras pada dasar kandung kemih dan ujung distal ureter membelok ke atas berbentuk seperti mata kail/pancing (fisa hook appearance).

  1. Pemeriksaan CT- Scan dan MRI

Computed Tomography Scanning (CT-Scan) dapat memberikan gambaran adanya pembesaran prostat, sedangkan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat memberikan gambaran prostat pada bidang transversal maupun sagital pada berbagai bidang irisan, namun pameriksaan ini jarang dilakukan karena mahal biayanya.

 

 

  1. Pemeriksaan sistografi

Dilakukan apabila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urine ditemukan mikrohematuria. pemeriksaan ini dapat memberi gambaran kemungkinan tumor di dalam kandung kemih atau sumber perdarahan dari atas apabila darah datang dari muara ureter atau batu radiolusen di dalam vesica. Selain itu sistoscopi dapat juga memberi keterangan mengenai besar prostat dengan mengukur panjang urethra pars prostatica dan melihat penonjolan prostat ke dalam urethra.

  1. Pemeriksaan lain

Secara spesifik untuk pemeriksaan pembesaran prostat jinak belum ada, yang ada ialah pemeriksaan penanda adanya tumor untuk karsinoma prostat yaitu pemeriksaan Prostatic Spesifik Antigen (PSA), angka penggal PSA ialah 4 nanogram/ml.

Diagnosa banding

Oleh karena adanya proses miksi tergantung pada kekuatan kontraksi detrusor, elastisitas leher kandung kemih dengan tonus ototnya dan resistensi urethra yang merupakan faktor dalam kesulitan miksi.

Setiap kesulitan miksi disebabkan oleh salah satu dari ketiga faktor di bawah :

  1. Kelemahan detrusor kandung kemih

ü  Ganguan neurologik

ü  kelainan medula spinals

ü  neuropatia diabetes mellitus

ü  pasca bedah radikal di pelvis

ü  farmakologik ( obat penenang, penghanbat alfa, parasimpatolitik)

  1. Kekakuan lehar kandung kemih

ü  Fibrosis

  1. Resistensi uretra

ü  hipertrofi prostat ganas atau jinak

ü  kelainan yang menyumbat uretra

 

ü  uretrolitiasis

ü  uretritis akut dan kronik

Pengobatan

Setiap kesulitan miksi yang diakibatkan dari salah satu faktor seperti berkurangnya kekuatan kontraksi detrusor atau menurunya elastisitas leher vesica, maka tindakan pengobatan ditujukan untuk mengurangi volume prostat, mengurangi tonus leher vesica atau membuka urethra pars prostatica dan menambah kekuatan kontraksi detrusor agar proses miksi menjadi mudah.

Pengobatan untuk hipertropy prostat ada 2 macam :

  1. Konsevatif

Pengobatan konservatif ini bertujuan untuk memperlambat pertumbuhan pembesaran prostat. Tindakan dilakukan bila terapi operasi tidak dapat dilakukan, misalnya : menolak operasi atau adanya kontra indikasi untuk operasi.

Tindakan terapi konservatif yaitu :

  1. Mengusahakan agar prostat tidak mendadak membesar karena adanya infeksi sekunder dengan pemberian antibiotika.
  2. Bila retensi urine dilakukan catheterisasi.
  3. Operatif

Pembedahan merupakan pengobatan utama pada hipertropi prostat benigna (BPH), pada waktu pembedahan kelenjar prostat diangkat utuh dan jaringan soft tissue yang mengalami pembesaran diangkat melalui 4 cara yaitu :

a)      Transurethral

Dilaksanakan bila pembesaran terjadi pada lobus medial yang langsung mengelilingi urethra. Jaringan yang direseksi hanya sedikit sehingga tidak terjadi perdarahan dan waktu pembedahan tidak terlalu lama. Rectoscope disambungkan dengan arus listrik lalu di masukkan ke dalam urethra.Kandung kemih di bilas terus menerus selama prosedur berjalan.Pasien mendapat alat untuk masa terhadap shock listrik dengan lempeng logam yang di beri pelumas di tempatkan pada bawah paha.Kepingan jaringan yang halus di buang dengan irisan dan tempat-tempat perdarahan di tutup dengan cauter.

Setelah TURP di pasang catheter Foley tiga saluran yang di lengkapi balon 30 ml.Setelah balon catheter di kembangkan, catheter di tarik ke bawah sehingga balon berada pada fosa prostat yang bekerja sebagai hemostat.Ukuran catheter yang besar di pasang untuk memperlancar pengeluaran gumpalan darah dari kandung kemih.
Kandung kemih diirigasi terus dengan alat tetesan tiga jalur dengan garam fisiologisatau larutan lain yang di pakai oleh ahli bedah.Tujuan dari irigasi konstan ialah untuk membebaskan kandung kemih dari ekuan darah yang menyumbat aliran kemih.Irigasi kandung kemih yang konstan di hentikan setelah 24 jam bila tidak keluar bekuan dari kandung kemih.Kemudian catheter bisa dibilas biasa tiap 4 jam sekali sampai catheter di angkat biasanya 3 sampai 5 hari setelah operasi.Setelah catheter di angkat pasien harus mengukur jumlah urine dan waktu tiap kali berkemih.

b)      Suprapubic Prostatectomy

Metode operasi terbuka, reseksi supra pubic kelenjar prostat diangkat dari urethra lewat kandung kemih.

c)      Retropubic Prostatectomy

Pada prostatectomy retropubic dibuat insisi pada abdominal bawah tapi kandung kemih tidak dibuka.

d)     Perineal prostatectomy

Dilakukan pada dugaan kanker prostat, insisi dibuat diantara scrotum dan rectum.

Dalam pengobatan ini dilakukan berdasarkan pembagian besarnya prostat, yaitu derajat 1 – 4.

  1. Derajat I

Dilakukan pengobatan koservatif, misalnya dengan fazosin, prazoin dan terazoin (untuk relaksasi otot polos).

  1. Derajat II

Indikasi untuk pembedahan. Biasanya dianjurkan resekesi endoskopik melalui urethra.

 

 

  1. Derajat III

Diperkirakan prostat cukup besar dan untuk tindakan yang dilakukan yaitu pembedahan terbuka melalui transvesical, retropubic atau perianal.

  1. Derajat IV

Membebaskan penderita dari retensi urine total dengan memasang catheter, untuk pemeriksaan lebih lanjut dalam pelaksanaan rencana pembedahan.

Komplikasi

  1. Perdarahan
  2. Inkotinensia
  3. Batu kandung kemih
  4. Retensi urine
  5. Impotensi
  6. Epididimitis
  7. Haemorhoid, hernia, prolaps rectum akibat mengedan
  8. Infeksi saluran kemih disebabkan karena catheterisasi
  9. Hydronefrosis

Hal-hal yang harus dilakukan pada pasien setelah pulang dari rumah sakit adalah ;

ü  latihan berat, mengangkat berat dan sexual intercourse dihindari selama 3 minggu setelah dirumah.

ü  Tidak boleh membawa kendaraan.

ü  Mengedan pada saat defekasi harus dihindari, faeces harus lembek kalau perlu pemberian obat untuk melembekkan faeces.

ü  Menganjurkan banyak minum untuk mencegah statis dan infeksi dan membuat faeces lembek.

 

 

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

Asuhan keperawatan pasien dengan hipertropi prostat melalui pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.

ü  Pengkajian Keperawatan

ü  Pengumpulan data

Data dasar yang berhubungan dengan post operasi hipertropi prostat. Mengelompokkan data merupakan langkah yang dilakukan setelah mengadakan pengumpulan data yang diperoleh sebagai berikut :

  1. Nyeri pada daerah tindakan operasi.
  2. Pusing.
  3. Perubahan frekuensi berkemih.
  4. Urgensi.
  5. Dysuria
  6. Flatus negatif.
  7. Luka tindakan operasi pada daerah prostat.
  8. Retensi, kandung kemih penuh.
  9. Inkontinensia
  10. Bibir kering.
  11. Puasa.
  12. Bising usus negatif.
  13. Ekspresi wajah meringis.
  14. Pemasangan catheter tetap.
  15. Gelisah.
  16. Informasi kurang.
  17. Urine berwarna kemerahan.

 

 

ü  Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan disusun menurut prioritas masalah pada pasien post operasi hipertropi prostat, adalah sebagai berikut :

  1. Perubahan eliminasi urine berhubungan obstruksi mekanikal : bekuan darah, oedema, trauma, prosedur bedah, tekanan dan iritasi catheter/balon.
  2. Resiko terjadi kekurangan volume cairan ditandai dengan area bedah vaskuler : kesulitan mengontrol perdarahan.
  3. Resiko infeksi ditandai dengan prosedur invasive : alat selama pembedahan, catheter, irigasi kandung kemih sering, trauma jaringan, insisi bedah.
  4. Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kemih : refleks spasme otot sehubungan dengan prosedur bedah dan / tekanan dari balon kandung kemih.
  5. Resiko terjadi disfungsi seksual ditandai dengan situasi krisis (inkontinensia, kebocoran urine setelah pengangkatan catheter, keterlibatan area genital)
  6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.
  7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
  8. Anxietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi

ü  Perencanaan Keperawatan

  1. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi mekanikal : bekuan darah, oedema, trauma, prosedur bedah, tekanan dan irigasi catheter/balon, ditandai dengan :
  • Nyeri pada daerah tindakan operasi.
  • Perubahan frekuensi berkemih.
  • Urgensi.
  • Dysuria.
  • Pemasangan catheter tetap.
  • Adanya luka tindakan operasi pada daerah prostat.
  • Urine berwarna kemerahan.

 

Tujuan : Klien mengatakan tidak ada keluhan, dengan kriteria :

  • Catheter tetap paten pada tempatntya.
  • Tidak ada sumbatan aliran darah melalui catheter.
  • Berkemih tanpa aliran berlebihan.
  • Tidak terjadi retensi pada saat irigasi.

Intervensi :

1)      Kaji haluaran urine dan sistem catheter/drainase, khususnya selama irigasi kandung kemih.

Rasional :

Retensi dapat terjadi karena edema area bedah, bekuan darah dan spasme kandung kemih.

2)      Perhatikan waktu, jumlah berkemih dan ukuran aliran setelah catheter dilepas.
Rasional :

Catheter biasanya dilepas 2 – 5 hari setelah bedah, tetapi berkemih dapat berlanjut menjadi masalah untuk beberapa waktu karena edema urethral dan kehilangan tonus.

3)      Dorong klien untuk berkemih bila terasa dorongan tetapi tidak lebih dari 2 – 4 jam.

Rasional :

Berkemih dengan dorongan dapat mencegah retensi, urine. Keterbatasan berkemih untuk tiap 4 jam (bila ditoleransi) meningkatkan tonus kandung kemih dan membantu latihan ulang kandung kemih.

4)      Ukur volume residu bila ada catheter supra pubic.

Rasional :

Mengawasi keefektifan kandung kemih untuk kosong. Residu lebih dari 50 ml menunjukkan perlunya kontinuitas catheter sampai tonus otot kandung kemih membaik.

 

5)      Dorong pemasukan cairan 3000 ml sesuai toleransi.

Rasional :

Mempertahankan hidrasi adekuat dan perfusi ginjal untuk aliran urine.

6)      Kolaborasi medis untuk irigasi kandung kemih sesuai indikasi pada periode pasca operasi dini.

Rasional :

Mencuci kandung kemih dari bekuan darah dan untuk mempertahankan patensi catheter/aliran urine.

  1. Resiko terjadi kekurangan volume cairan ditandai dengan area bedah vaskuler :

kesulitan mengontrol perdarahan, ditandai dengan :

  • Pusing.
  • Flatus negatif.
  • Bibir kering.
  • Puasa
  • Bising usus negatif.
  • Urine berwarna kemerahan.

Tujuan : Tidak terjadi kekurangan volume cairan, dengan kriteria :

  • Tanda-tanda vital normal.
  • Nadi perifer teraba.
  • Pengisian kapiler baik.
  • Membran mukosa baik.
  • Haluaran urine tepat.

Intervensi :

1)      Benamkan catheter, hindari manipulasi berlenihan.

Rasional :

Penarikan/gerakan catheter dapat menyebabkan perdarahan atau pembentukan bekuan darah.

 

2)      Awasi pemasukan dan pengeluaran cairan.

Rasional :

Indicator keseimbangan cairan dan kebutuhan penggantian. Pada irigasi kandung kemih, awasi perkiraan kehilangan darah dan secara akurat mengkaji haluaran urine.

3)      Evaluasi warna, komsistensi urine.

Rasional :

Untuk mengindikasikan adanya perdarahan.

4)      Awasi tanda-tanda vital

Rasional :

Dehidrasi/hipovolemia memerlukan intervensi cepat untuk mencegah berlanjut ke syok. Hipertensi, bradikardi, mual/muntah menunjukkan sindrom TURP, memerlukan intervensi medik segera.

5)      Kolaborasi untuk pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi (Hb/Ht, jumlah sel darah merah)

Rasional :

Berguna dalam evaluasi kehilangan darah/kebutuhan penggantian.

  1. Resiko infeksi ditandai berhubungan dengan prosedur pembedahan, catheter, irigasi kandung kemih sering, trauma jaringan, insisi bedah, ditandai dengan :
  • Nyeri daerah tindakan operasi.
  • Dysuria.
  • Luka tindakan operasi pada daerah prostat.
  • Pemasangan catheter tetap.

Tujuan : Menunjukkan tidak tampak tanda-tanda infeksi, dengan kriteria :

  • Tidak tampak tanda-tanda infeksi.
  • Inkontinensia tidak terjadi.
  • Luka tindakan bedah cepat kering.

 

Intervensi :

1)      Berikan perawatan catheter tetap secara steril.

Rasional :

Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi/cross infeksi.

2)      Ambulasi kantung drainase dependen.

Rasional :

Menghindari refleks balik urine, yang dapat memasukkan bakteri ke kandung kemih.

3)      Awasi tanda-tanda vital.

Rasional :

Klien yang mengalami TUR beresiko untuk syok bedah/septic sehubungan dengan instrumentasi.

4)      Ganti balutan dengan sering, pembersihan dan pengeringan kulit sepanjang waktu.

Rasional :

Balutan basah dapat menyebabkan iritasi, dan memberikan media untuk pertumbuhan bakteri, peningkatan resiko infeksi.

5)      Kolaborasi medis untuk pemberian golongan obat antibiotika.

Rasional :

Dapat membunuh kuman patogen penyebab infeksi.

  1. Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kemih : refleks spasme otot berhubungan dengan prosedur bedah dan/tekanan dari balon kandung kemih, ditandai dengan :
  • Nyeri pada daerah tindakan operasi.
  • Luka tindakan operasi.
  • Ekspresi wajah meringis.
  • Retensi urine, sehingga kandung kemih penuh.

 

 

Intervensi :

1)      Kaji tingkat nyeri.

Rasional :

Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan klien dan memudahkan kita dalam memberikan tindakan.

2)      Pertahankan posisi catheter dan sistem drainase.

Rasional :

Mempertahankan fungsi catheter dan sistem drainase, menurunkan resiko distensi/spasme kandung kemih.

3)      Ajarkan tekhnik relaksasi.

Rasional :

Merileksasikan otot-otot sehingga suplay darah ke jaringan terpenuhi / adekuat, sehingga nyeri berkurang.

4)      Berikan rendam duduk bila diindikasikan.

Rasional :

Meningkatkan perfusi jaringan dan perbaikan edema dan meningkatkan penyembuhan.

5)      Kolaborasi medis untuk pemberian anti spasmodic dan analgetika.

Rasional :

ü  Golongan obat anti spasmodic dapat merilekskan otot polos, untuk memberikan  / menurunkan spasme dan nyeri.

ü  Golongan obat analgetik dapat menghambat reseptor nyeri sehingga tidak diteruskan ke otak dan nyeri tidak dirasakan.

 

 

 

  1. Resiko terjadi disfungsi seksual ditandai dengan situasi krisis ( inkontinensia, kebocoran urine setelah pengangkatan catheter, keterlibatan area genital ) ditandai dengan :
  • Tindakan pembedahan kelenjar prostat.

Tujuan : Fungsi seksual dapat dipertahankan, kriteria :

  • Pasien dapat mendiskusikan perasaannya tentang seksualitas dengan orang terdekat.

Intervensi :

1)      Berikan informasi tentang harapan kembalinya fungsi seksual.

Rasional :

Impotensi fisiologis : terjadi bila saraf perineal dipotong selama prosedur bedah radikal ; pada pendekatan lain, aktifitas seksual dapat dilakukan seperti biasa dalam 6 – 8 minggu.

2)      Diskusikan dasar anatomi.

Rasional :

Saraf pleksus mengontrol aliran secara posterior ke prostat melalui kapsul. Pada prosedur yang tidak melibatkan kapsul prostat, impoten dan sterilitas biasanya tidak terjadi.

3)      Instruksikan latihan perineal.

Rasional :

Meningkatkan peningkatan kontrol otot kontinensia urine dan fungsi seksual.

4)      Kolaborasi ke penasehat seksualitas/seksologi sesuai indikasi.

Rasional :

Untuk memerlukan intervensi professional selanjutnya.

 

 

 

  1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.

Tujuan : pasien dapat tidur dengan nyaman, dengan kriteria :

  • pasien mengungkapkan kemampuan untuk tidur.
  • pasien tidak merasa lelah ketika bangun tidur- kualitas dan kuantitas tidur normal

Intervensi :

1)      Mandiri

  1. Berikan kesempatan untuk beristirahat / tidur sejenak, anjurkan latihan pada siang hari, turunkan aktivitas mental / fisik pada sore hari.

Rasional : Karena aktivitas fisik dan mental yang lama mengakibatkankelelahan yang dapat mengakibatkan kebingungan, aktivitas yang terprogram tanpa stimulasi berlebihan yang meningkatkan waktu tidur.

  1. Hindari penggunaan ”Pengikatan” secara terus menerus

Rasional : Risiko gangguan sensori, meningkatkan agitasi dan menghambat waktu istirahat.

  1. Evaluasi tingkat stres / orientasi sesuai perkembangan hari demi hari.

Rasional : Peningkatan kebingungan, disorientasi dan tingkah laku yang tidak kooperatif (sindrom sundowner) dapat melanggar pola tidur yang mencapai tidur pulas

  1. Lengkapi jadwal tidur dan ritoal secara teratur. Katakan pada pasien bahwa saat ini adalah waktu untuk tidur.

Rasional : Pengatan bahwa saatnya tidur dan mempertahankan kestabilan lingkungan.Catatan : Penundaan waktu tidur mungkin diindikasikan untuk memungkin pasien membuang kelebihan energi dan memfasilitas tidur.

  1. Berikan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi dan masase punggung.

Rasional : Meningkatkan relaksasi dengan perasan mengantuk

  1. Turunkan jumlah minum pada sore hari. Lakukan berkemih sebelum tidur

Rasional : Menurunkan kebutuhan akan bangun untuk pergi kekamar mandi/berkemih selama malam hari.

  1. Putarkan musik yang lembut atau ”suara yang jernih”

Rasional : Menurunkan stimulasi sensori dengan menghambat suara-suara lain dari lingkungan sekitar yang akan menghambat tidur nyeyak.

2)      Kolaborasi

  1. Berikan obat sesuai indikasi : Antidepresi, seperti amitriptilin (Elavil); deksepin (Senequan) dan trasolon (Desyrel).

Rasional : Mungkin efektif dalam menangani pseudodimensia atau depresi, meningkatkan kemampuan untuk tidur, tetapi anti kolinergik dapat mencetuskan dan memperburuk kognitif dalam efek samping tertentu (seperti hipotensi ortostatik) yang membatasi manfaat yang maksimal.

  1. Koral hidrat; oksazepam (Serax); triazolam (Halcion).

Rasional : Gunakan dengan hemat, hipnotik dosis rendah mungkin efektif dalam mengatasi insomia atau sindrom sundowner.

  1. Hindari penggunaan difenhidramin (Benadry1).

Rasional : Bila digunakan untuk tidur, obat ini sekarang dikontraindikasikan karena obat ini mempengaruhi produksi asetilkon yang sudah dihambat dalam otak pasien dengan DAT ini.

  1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum

Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas ringan atau total, dengan kriteria hasil :

  • Perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.
  • Pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.
  • Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.

 

 

Intervensi

1)      Rencanakan periode istirahat yang cukup.

Rasional : mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal.

2)      Berikan latihan aktivitas secara bertahap.

Rasional : tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.

3)      Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.

Rasional : mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.

4)      Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien.

Rasional : menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.

  1. Anxietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi, ditandai dengan :
  • Gelisah.
  • Informasi kurang

Tujuan : Klien mengungkapkan anxietas teratasi, dengan kriteria :

  • Klien tidak gelisah.
  • Tampak rileks

Intervensi :

1)      Kaji tingkat anxietas.

Rasional :

Mengetahui tingkat anxietas yang dialami klien, sehingga memudahkan dalam memberikan tindakan selanjutnya.

 

 

2)      Observasi tanda-tanda vital.

Rasional :

Indikator dalam mengetahui peningkatan anxietas yang dialami klien.

3)      Berikan informasi yang jelas tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan.

Rasional :

Mengerti/memahami proses penyakit dan tindakan yang diberikan.

4)      Berikan support melalui pendekatan spiritual.

Rasional :

Agar klien mempunyai semangat dan tidak putus asa dalam menjalankan pengobatan untuk penyembuhan

ü  Pelaksanaan Asuhan Keperawatan

Pada langkah ini, perawat memberikan asuhan keperawatan, yang pelaksanaannya berdasarkan rencana keperawatan yang telah disesuaikan pada langkah sebelumnya (perencanaan tindakan keperawatan).

ü  Evaluasi Keperawatan

Asuhan keperawatan dalam bentuk perubahan prilaku pasien merupakan focus dari evaluasi tujuan, maka hasil evaluasi keperawatan dengan post operasi hipertropi prostat adalah sebagai berikut :

  1. Pola eliminasi urine dapat normal.

Kriteria hasil :

ü  Menunjukkan prilaku untuk mengendalikan refleks kandung kemih.

ü  Pengosongan kandung kemih tanpa adanya penekanan/distensi kandung kemih/retensi urine.

 

 

  1. Terpenuhinya kebutuhan cairan.

Kriteria hasil :

ü  Tanda-tanda vital normal

ü  Nadi perifer baik/teraba.

ü  Pengisian kapiler baik.

ü  Membran mukosa lembab.

ü  Haluaran urine tepat.

  1. Mencegah terjadinya infeksi.

Kriteria hasil :

ü  Tercapainya penyembuhan dan tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.

  1. Melaporkan nyeri hilang/terkontrol.

Kriteria hasil :

ü  Menunjukkan keterampilan penggunaan relaksasi dan aktifitas terapeutik sesuai indikasi dan situasi individu.

ü  Tampak rileks.

  1. Fungsi seksual dapat dipertahankan.

Kriteria hasil :

ü  Menyatakan pemahaman situasi individual

ü  Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah.

  1. Klien dapat tidur dengan nyaman

Kriteria hasil :

ü  Klien mengungkapkan kemampuan untuk tidur.

ü  Klien tidak merasa lelah ketika bangun tidur- kualitas dan kuantitas tidur normal

  1. Klien dapat melakukan aktivitas ringan atau total

Kriteria hasil :

ü  Perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.

ü  Klien mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.

ü  Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.

 

  1. Klien mengerti/memahami tentang penyakitnya.

Kriteria hasil :

ü  Berpartisipasi dalam program pengobatan.

ü  Melakukan perubahan prilaku yang perlu.

ü  Melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alasan tindakan.

 

Tentang enymint

@.....hadapi semuanya dengan senyuman .....@ simple ,,, cute ,,, frendly ,,,
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s